Upaya Mengembalikan Budaya Temong Sebagai Media Rekonsiliasi Sangketa Petani Suku Abui - Desa Mataru Utara, Kecamatan Mataru, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur

  • Paulus Edison Plaimo Universitas Tribuana Kalabahi
  • Isak Alelang Universitas Tribuana Kalabahi
  • Setia Budi Laoepada Universitas Tribuana Kalabahi
  • Thomas John Tanglaa Universitas Tribuana Kalabahi
  • Elia Maruli Universitas Tribuana Kalabahi
Keywords: budaya, Temong, rekonsiliasi, Taman Mataru

Abstract

Budaya temong merupakan media rekonsiliasi, walaupun budaya temong sangat bermanfaat dalam menyelesaikan pertikaian tetapi budaya ini mulai ditinggalkan karena tergerus oleh kemajuan zaman setiap persoalan langsung dilimpahkan ke kepolisian. melalui metode wawancara dan diskusi bersama sesama anggota temong, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemerintah ditemukan pola dan faktor-faktor yang mendorong peristiwa rekonsiliasi. adapun pola yang mendorong peristiwa rekonsiliasi antara lain: (a) saat kegiatan temong berlangsung ada ikatan emosional, merasa senasib dan sepenanggungan sehingga perasan bathin antar sesama anggota temong lebih terbuka; (b) ketika kegiatan temong berlangsung ada perasaan sukacita, bergembira bersama sehingga melalui kebersamaan yang ada, suasana bathin para anggota lebih ebih menerima satu dengan yang lain dan saling memaafkan jika ada pertikaian mealui guyonan, berbalas berpantun; (c) setelah kegiatan temong berakhir dilanjutkan dengan makan bersama sehingga jika masih ada persoalan yang tersimpan dibathin dapat segera lebur karena semua anggota saling melayani, menerima kekurangan dan kelebihan antar anggota. selanjutnya ditemukan faktor yang mendorong peristiwa rekonsiliasi dapat berlangsung, seperti (a) keinginan memegang teguh nilai adatia yang diwariskan oleh leluhur melalui budaya temong; (b) apabila rekonsiliasi berhasil dengan mendamaikan pertikaian oleh beberapa pihak saat pelaksanaan kegiatan temong biasanya akan menghasilkan hasil panen yang melimpah; (c) apabila rekonsiliasi berhasil dengan mendamaikan pertikaian oleh beberapa pihak saat pelaksanaan kegiatan temong, di ladang (kebun) tersebut biasanya terbebas dari hama yang dapat merusak tanaman perkebunan. melalui kegiatan pengabdian masyarakat, kami melakukan pendampingan kepda masyarakat untuk tetap menggunakan budaya temong sebagai media rekonsiliasi.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Bagiastra, I. K. (2013). Peranan Evaluasi Dalam Analisis Kebijakan. Media Bina Ilmiah.

Machali, I., Arifin, Z., & Rodli, A. (2015). Peace Education sebagai Resolusi Konflik Studi Kasus di Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) DIY. An-Nur: Jurnal Studi Islam, 7(2), 25-51.

Plaimo, P. E., & Alelang, I. F. (2020). Identification of Sustainability Supporting Factors of Mulung Culture Tradition of Baranusa (Habitat Conservation Efforts of Aquatic Lapang-Batang Island). Berkala Perikanan Terubuk, 48(1), 251–259. https://doi.org//10.31258/terubuk.48.1.251-259

Simanullang, C., & Iftitah, A. (2018). Mediasi Dalam Penyelesaian Sengketa Perdata Di Pengadilan Negeri Kelas I B Blitar. Jurnal Supremasi, 7(2). https://doi.org/10.35457/supremasi.v7i2.379

Zuhdi, M. H. (2018). Kearifan Lokal Suku Sasak Sebagai Model Pengelolaan Konflik Di Masyarakat Lombok. Mabasan, 12(1). https://doi.org/10.26499/mab.v12i1.34

Published
2020-05-17
How to Cite
Plaimo, P. E., Alelang, I., Laoepada, S. B., Tanglaa, T. J., & Maruli, E. (2020). Upaya Mengembalikan Budaya Temong Sebagai Media Rekonsiliasi Sangketa Petani Suku Abui - Desa Mataru Utara, Kecamatan Mataru, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Madaniya, 1(2), 80-85. Retrieved from https://madaniya.pustaka.my.id/journals/contents/article/view/13
Section
Artikel